Hari Merdeka, Pasaman Barat Masih Dijajah

Rabu, 17 Agustus 2022 12:31 WIB

Share
Hari Merdeka, Pasaman Barat Masih Dijajah

MEDAN, SUMUT.POSKOTA.CO.ID

Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang selalu diperingati pada tiap-tiap tanggal 17 Agustus, sejatinya dapat menguatkan semangat bela negara dan memupuk jiwa nasionalisme setiap individu warga negara. Sekaligus dapat dimaknai sebagai tonggak sejarah betapa pahit dan getirnya perjuangan para pendahulu, dalam meraih kemerdekaan dengan cara mengusir penjajah dari bumi nusantara.

HUT RI ke 77 ini sejatinya juga dapat dimaknai sebagai hari kemerdekaan yang hakiki. Bebas dari segala belenggu penjajahan dalam bentuk apapun. Termasuk bebas dari penjajahan atau perusakan lingkungan hidup. Namun, kenyataan tersebut jauh panggang dari api. Khususnya di Kecamatan Ranah Batahan (Rabat) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) yang saat ini sedang marak-maraknya dugaan ilegal loging dan ilegal mining, dilakukan para pemodal atau kapitalis (pebisnis hitam). 

Pernyataan tersebut diungkapkan Dona Rizaka Lubis SPd MPd kepada wartawan, Rabu 17 Agustus 2022, di Medan.

Dona panggilan Dona Rizaka Lubis, Wakil Ketua Bidang Humas dan Pengawasan Lingkungan Hidup Serikat Perantau Peduli Rabat Sumatera Utara (SPPR Sumut), didampingi Abdurrahman Penasehat, Eka Putra Zakran Ketua, Muhammad Amin Sekretaris, Abdul Khoir Bendahara, Rizalman Wakil Ketua Bidang Advokasi, Hukum dan HAM serta Muharram Wakil Ketua Bidang Intelejen, Pertahanan dan Keamanan SPPR Sumut, menyatakan, sejatinya HUT RI 77 dapat dimaknai sebagai hati kemerdekaan yang hakiki.

“Ya, HUT RI ke 77 ini sejatinya dapat kita maknai sebagai kemerdekaan yang hakiki, lepaas atau bebas dari segala belenggu penjajahan dan penghianatan kepada ibu pertiwi. Namun, kenyataan itu jauh panggang dari api, khusunya di kampung kami, di Rabat sedang marak-maraknya saart ini dugaan praktik tambang emas ilegal (ilegal mining) dan praktik perambahan hutan secara liar (ilegal loging), pembiaran terhadap aktivitas liar ini menurut hemat saya merupakan bentuk penjajahan terhadap alam," kata Dona.

Dona membeberkan, menyedihkan melihat beroperasinya praktik ilegal loging dan ilegal mining di rabat, rusak alam, rusak lingkungan, rusak jalan dan rusak sungai ulah nafsu dan keserakahan para pebisnis hitam dalam menguras habis, kekayaan alam. Sehingga tidak ada lagi kelestarian lingkungan, khusunya terhadap kelestarian sungai Batang Batahan dan sungai Taming Batahan di Pasbar.

Sementara, katanya, banyak sekali masyarakat yang menggantungkan kebutuhan hidup sehar-hari terhadap kedua aliran sungai tersebut. Baik untuk kebutuhan minum, memasak maupun untuk mandi. Anehnya sudah bertahun praktik liar tersebut beroperasi, namun pihak Pemda Pasbar terkesan tutup mata. 

"Itu yang geramnya kita bang," beber Dona. 

Menyikapi hal itu, SPPR Sumut mendesak Pemda Pasbar dalam hal ini bupati, agar dapat menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan ini dengan tegas dan konkrit, masyarakat sudah semakin resah atas dampak kerusakan lingkungan yang dialami masyarakat disana. 

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar